SUBSCRIBE

Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Monday, March 14, 2022

Arab Saudi dan UEA Tolak Telepon AS, Joe Biden Ketar Ketir Soal Harga Mi...

Arab Saudi dan UEA Tolak Telepon AS, Joe Biden Ketar-Ketir Soal Harga Minyak Dunia.
Mitha Paradilla Rayadi.
9 Maret 2022.

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden ketar-ketir dengan lonjakan harga minyak dunia akibat invasi Rusia di Ukraina. Joe Biden lantas menjadwalkan untuk berdiskusi dengan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), akan tetapi rencana AS ditolak dua negara penghasil minyak tersebut. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan Sheikh Mohammed bin Zayed al Nahyan dari UEA, tidak bersedia berdiskusi dengan AS untuk masalah minyak dunia, melansir dari Wall Street Journal. Pasalnya, kedua negara tersebut menjelaskan AS hanya akan membuat Arab Saudi dan UEA terus melakukan pengeboran minyak.

Selain itu diskusi mengenai minyak tersebut dilakukan Joe Biden seusai secara resmi melarang impor minyak Rusia ke AS. Lantas saja keputusan Joe Biden tersebut membuat harga minyak semakin melambung, yakni 130 dolar AS (Rp1,8 juta) per barel, Selasa 8 Maret 2022. Duta besar UEA untuk AS, Yousef Al Otaiba mengakui bahwa hubungan kedua negara sedang tegang. "Kami menghadapi tes stres, tetapi saya yakin kami akan keluar dari sana dan mencapai tempat yang lebih baik,” kata Al Otaiba sebagaimana dilansir Guardian pada Rabu 9 Maret 2022.***


Editor: Mitha Paradilla Rayadi.
Sumber: Wall Street Journal.

Wednesday, March 9, 2022

Tak Lagi Berambisi untuk Gabung NATO Sikap Presiden Ukraina Zelensky Ing...

Sikap Presiden Ukraina Melunak, Tak Lagi Berambisi untuk Gabung NATO
9 Maret 2022.

Sikap Presiden Ukraina Melunak, Tak Lagi Berambisi untuk Gabung NATO, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan tak lagi berambisi bergabung dengan NATO. Salah satu pemicu Rusia melakukan invasi ke Ukraina adalah terkait keinginan Ukraina menjadi anggota NATO. Rusia tak terima jika Ukraina bergabung dengan NATO. Akan tetapi, keinginan itu kini mulai pudar setelah Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan tak lagi mendesak Ukraina bergabung dengan NATO.

Sikap itu dipilih karena memang sensitif. Maklum saja, keinginan untuk bergabung dengan NATO menjadi salah satu alasan Rusia melakukan invasi. Tak pelak, sikap Zelensky terbaru bisa dibilang membuat Rusia unggul dalam hal ini. Zelensky mengatakan dirinya terbuka untuk berkompromi pada status dua wilayah pro-Rusia yang memisahkan diri yang diakui Presiden Vladimir Putin sebagai wilayah independen sebelum melancarkan invasi pada 24 Februari 2022.

“Saya telah tenang mengenai pertanyaan ini sejak lama setelah kami memahami bahwa NATO tidak siap untuk menerima Ukraina,” kata Zelensky dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada hari Senin 7 Maret 2022 malam di ABC News seperti dilansir France24.

Aliansi takut akan terjadi hal-hal kontroversial, dan konfrontasi dengan Rusia,” tambah Zelensky. Mengacu pada keanggotaan NATO, Zelensky mengatakan melalui seorang penerjemah bahwa dia tidak ingin menjadi presiden dari negara yang memohon sesuatu dengan berlutut. Dalam beberapa tahun terakhir aliansi itu telah berkembang lebih jauh dan lebih jauh ke timur untuk mengambil negara-negara bekas Uni Soviet dan membuat Kremlin marah.

Rusia melihat perluasan NATO sebagai ancaman. Putin ingin Ukraina juga mengakui mereka sebagai negara yang berdaulat dan mandiri. “Saya berbicara tentang jaminan keamanan,” kata Zelensky. “Kita dapat mendiskusikan dan menemukan kompromi tentang bagaimana wilayah ini akan terus hidup,” imbuh Zelensky. “Ini adalah ultimatum lain dan kami tidak siap untuk ultimatum. Yang perlu dilakukan saat ini adalah Presiden Putin mulai berbicara,” pungkas Zelensky.

Editor : Edy Pramana

Reporter : Marieska Harya Virdhani
Sumber : www.jawapos.com

Sanksi Ekonomi AS, Rusia Ancam Potong Pasokan Gas ke Uni Eropa

Sanksi Ekonomi AS, Rusia Ancam Potong Pasokan Gas ke Uni Eropa.
Faustina Prima Martha - Bisnis.com 8 Maret 2022.

Rusia mengancam akan memotong pasokan gas alam ke Eropa melalui pipa Nord Stream 1 sebagai bagian dari tanggapannya terhadap sanksi yang dijatuhkan atas invasi Ukraina. Langkah ini dikhawatirkan dapat meningkatkan gejolak di pasar energi dan mendorong harga konsumen lebih tinggi.  Wakil Perdana Menteri Alexander Novak mengatakan Rusia memiliki hak untuk mengambil tindakan yang mencerminkan sanksi yang dijatuhkan pada ekonomi Rusia.

Namun, dia mengatakan belum ada keputusan untuk mematikan Nord Stream 1 dan pipa saat ini beroperasi pada kapasitas penuh. Komentar tersebut muncul setelah spekulasi beredar di pasar gas Eropa, dengan harga pada satu titik melonjak hampir 80 persen di tengah kekhawatiran gangguan pasokan dari Rusia.

“Rusia memiliki pilihan lain untuk menjual minyaknya. Jika AS dan Uni Eropa melarang impor Rusia, dan dia memperingatkan bahwa setiap langkah seperti itu dapat memiliki konsekuensi bencana bagi pasar dunia dengan harga melonjak hingga US$ 300 per barel atau bahkan lebih,” tekan Novak dilansir dari Bloomberg, pada hari Selasa (8/3/2022).  Ketergantungan Eropa pada energi Rusia menjadi perhatian bagi para pemimpin Uni Eropa untuk menyepakati bagaimana menanggapi perang Rusia Ukraina.

Bulan lalu, Berlin menangguhkan proyek pipa Nord Stream 2 senilai US$ 11 miliar, dan pejabat Uni Eropa mengatakan mereka sedang mengerjakan rencana yang dapat memotong kebutuhan impor blok itu dari Rusia hampir 80 persen tahun ini.  Tetapi banyak politisi Uni Eropa tetap waspada terhadap tindakan Rusia. Hal ini merupakan salah satu alasan Jerman menolak proposal larangan impor minyak. Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan minyak dan gas Rusia sangat penting bagi ekonomi Eropa. Sekitar 40 persen impor gas Uni Eropa dan seperempat pasokan minyak berasal dari Rusia.

Editor : Faustina Prima Martha
Sumber : Bisnis.com

Monday, March 7, 2022

Perang Rusia vs Ukraina dan Perang Israel vs Palestina, Kenapa Perlakuan...



Rusia vs Ukraina dan Israel vs Palestina, Kenapa "Perlakuan" Media Barat Berbeda? 
Sabtu, 5-3-2022

Sejumlah reaksi masyarakat di internet, khususnya Indonesia, mempertanyakan pemberitaan media Barat tentang perang Rusia vs Ukraina yang sangat gencar, berbeda dengan konflik Israel dan Palestina. 
Contohnya, ketika terjadi penyerangan oleh pasukan keamanan Israel terhadap jemaah Palestina di Masjid Al-Aqsa saat merayakan Isra Mi'raj, Senin (28/2/2022). 
Perhatian media-media Barat tampak terfokus pada konflik Rusia Ukraina, sehingga kurang menyoroti apa yang terjadi di Al-Aqsa. 
Saat itu, 14 warga Palestina terluka termasuk seorang anak, dan empat orang dibawa ke rumah sakit akibat tindakan keras pasukan Israel. 
Video yang dibagikan oleh warga Palestina di media sosial menunjukkan pasukan Israel melemparkan gas air mata dan granat kejut ke kerumunan jemaah walau terdapat banyak anak dan bayi, lalu memicu kepanikan. 
Pada hari yang sama, invasi Rusia ke Ukraina memasuki hari keempat dengan ibu kota Kiev yang dikepung dan ratusan ribu pengungsi melarikan diri dari zona konflik.

Sumber : Teknologi Strategi Militer