Information About Military Alutsista, Army, War, Weapons, Technology, Navy, Air Force and Army of Developed Countries Such as America, Russia, France, Britain, Israel, China, and the European Union as well as the Defense Alliance as large as NATO, QUAD, AUKUS, BRICS and Many More
Thank you for visiting our blog, don't forget to leave a comment
Several countries claim to want to buy Iranian-made drones
Wednesday, 26-10-2022.
Some 22 countries are claimed to have made formal requests to buy Iranian drones after Ukraine accused Russia of using Tehran's drones to attack the country.
The former commander of Iran's Revolutionary Guard Corps as well as the main military aide to Iran's Supreme Leader, Major General Yahia Rahim Safavi, said some of the countries that were buying were splintered from the former Soviet Union.
"Today we have found that 22 countries in the world are interested in buying unmanned weapons from Iran," Safavi told Tasnim News quoted by Al Araby.
"Current candidate countries to buy Iranian drones include Armenia, Tajikistan, Serbia, Algeria, Venezuela and other countries," Safavi said, as quoted by Middle East Monitor.
Furthermore, Safavi explained that before the Islamic Revolution, Iran had imported 80 percent of its military needs from abroad. However, the Middle Eastern country is now producing its own military equipment.
So far there are no further details which other countries are buying Iranian drones. They also did not reveal what kind of drone the dozens of countries were asking for.
Iran is known to have many drones. Some of them are Shahed-136, Fotros, Saeqeh-2, and Mohajer-6.
The Shahed-136 drone, also known as the Kamikaze, was in the spotlight after Russia was said to have used the weapon to attack Ukraine.
However, Iran has denied sending the drone to Russia. The Shahed 136 drone carries a small warhead that explodes on impact
Post by facebook admin military strategy technology
Rusia Kirim Gelombang Serangan Drone Shahed-136 Kamikaze Buatan Iran, Berikut Ini Spesifikasinya.
Rabu, 19-10-2022.
Gelombang baru serangan udara mematikan Rusia di Ukraina telah menewaskan lebih dari 25 orang dan melukai lebih dari 100, menurut pihak berwenang di Kyiv, sebagaimana dikutip Al Jazeera, 17 Oktober 2022.
Serangan dimulai pada 10 Oktober lalu menggunakan rudal Rusia serta drone buatan Iran, yang telah menargetkan setidaknya 10 wilayah di seluruh negeri, menurut pihak berwenang Ukraina.
Kawanan pesawat tak berawak yang sarat bahan peledak itu, disebut drone “kamikaze”, menargetkan Kyiv, menewaskan sedikitnya empat orang dan menargetkan fasilitas energi. Angkatan Udara Ukraina mengaku telah menghancurkan setidaknya 37 drone pada hari Senin.
Mengapa disebut drone kamikaze?
Tidak seperti drone yang kembali ke pangkalan setelah rudal diluncurkan, drone kamikaze atau bunuh diri dihancurkan dalam serangan. Kamikaze sendiri merupakan istilah yang digunakan pilot Jepang dalam Perang Dunia II untuk serangan bunun diri dengan menabrak target musuh.
Ukraina mengatakan Rusia mengimpor drone dari Iran, di mana mereka dikenal sebagai Shahed-136, yang dapat diterjemahkan sebagai “yang rela berkorban saat perang”.
Shahed-136 pertama kali muncul dalam perang pada bulan September. Meskipun digambarkan sebagai drone kamikaze, drone itu lebih baik dianggap sebagai rudal jelajah kecil dengan kapasitas destruktif yang relatif terbatas. Meskipun begitu, drone Shahed-136 mampu membawa rudal dan memiliki muatan sekitar 50 kilogram (110 pon). Itu berarti mereka dapat menimbulkan kerusakan yang signifikan.
Selain memiliki panjang 3,5 meter, Shahed-136 memiliki lebar sayap 2.5 meter, dengan berat 200 kg dan dapat menempuh kecepatan hingga 115 mph. Jarak yang dapat ditempuh hingga 1.550 mil dan menggunakan mesin push-propeller.
Bentuk sayap triangular milik drone tersebut membuat Shahed-136 terlihat seperti setrika. Yang mengejutkan, drone ini tak memiliki kamera dan hanya dipandu dengan menggunakan navigasi satelit. Hal tersebut mengakibatkan Shahed-136 hanya dapat menyerang target jarak dekat yang telah dipantau sebelumnya.
Selain itu, komponen elektronik dan mesinnya berasal dari AliExpress yang masuk ke dalam golongan kelas sipil. Karena hal itu, drone jadi sangat sensitif terhadap sistem perang elektronik.
Analis pertahanan Al Jazeera Alex Gatopoulos mengatakan amunisi drone tersebut dapat melayang di atas suatu area untuk mengidentifikasi target, sebelum menyelam dan menghancurkannya.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, mengatakan Rusia telah membeli 2.400 drone jumlah yang terdengar besar, tetapi habis dengan cepat.
Gatopoulos mengatakan drone kamikaze atau Shahed-136 tidak mungkin buatan Rusia karena Moskow telah tertinggal dalam mengembangkan drone taktis kelas bawah, terutama yang bersenjata.
Samir Puri, seorang analis di King's College London, dikutip Al Jazeera, mengatakan bahwa beberapa bentuk perjanjian penjualan kemungkinan telah terjadi antara Moskow dan Teheran.
"Drone ini dibeli dari rak Iran, dipindahkan ke zona perang dan digunakan, saya pikir, sangat banyak sebagai senjata yang akan terus membingungkan pertahanan udara Ukraina dengan menambahkan sesuatu yang lain," kata Puri.
Drone kamikaze harganya jauh lebih murah daripada rudal jelajah, namun biayanya sekitar US$ 20.000 juga tidak bisa disebut murah. “Itu sebenarnya cukup mahal, ketika Anda memikirkan fakta bahwa mereka (Shahed-136) adalah senjata sekali pakai.” ucapnya.