SUBSCRIBE

Showing posts with label drone. Show all posts
Showing posts with label drone. Show all posts

Tuesday, August 1, 2023

Urgent! US Army Infantry Need LASSO – Kamikaze Tank Destroyer Drones

 Urgent! Infanteri Angkatan Darat AS Butuh LASSO – Drone Kamikaze Penghancur Tank



Berita Matra Darat, Berita Update Alutsista, Drone, Drone Kamikaze.

Buntut dari perang di Ukraina rupanya telah memaksa Angkatan Darat AS (US Army) untuk mengembangkan jenis senjata baru untuk infanteri. Tidak itu saja, ada permintaan khusus bahwa jenis senjata ini harus cepat dapat diimplementasi, yakni harus sudah ada di tangan prajurit pada tahun 2024. Mencermikan situasi yang mendesak pada kelompok senjata anti tank.

Program Executive Office Soldier (PEO Soldier) di bawah US Army, pada bulan ini telah mengumumkan jenis senjata yang disebut LASSO (Low Altitude Stalking and Strike Ordnance), yakni berupa drone kamikaze yang dirancang khusus sebagai penghancur tank.

Persisnya, LASSO adalah jenis senjata portable untuk infanteri yang ide dasarnya bercermin pada kasus yang terjadi pada perang Rusia-Ukraina.



Seperti halnya drone Switchblade, sistem LASSO dapat dibawa oleh seorang prajurit. Komponen LASSO terdiri dari tabung peluncur, drone dengan payload yang mematikan, fire control station, termasuk electrical optical/infrared sensor, precision flight control yang mendukung kemampuan untuk terbang, melacak dan melibatkan target non-line-of-sight dengan serangan mematikan yang berpresisi tinggi.


Rencananya, LASSO akan melengkapi senjata di Infantry Brigade Combat Teams (IBCT). Sejauh ini belum ada informasi tentang kemampuan drone kamikaze LASSO ini, tentu menjadi pertanyaan seberapa jauh jangkauan drone ini, kecepatan, propulsi, berat dan hulu ledaknya. (Gilang Perdana)

Urgent! US Army Infantry Need LASSO – Kamikaze Tank Destroyer Drones

Ground Forces News, Updates on Defense Equipment, Drones, Kamikaze Drones.

The aftermath of the war in Ukraine has apparently forced the US Army (US Army) to develop new types of weapons for infantry. Not only that, there is a special request that this type of weapon must be implemented quickly, namely it must be in the hands of soldiers by 2024. Reflecting the urgent situation in the anti-tank weapon group.

The Executive Office Soldier (PEO Soldier) program under the US Army, this month announced a type of weapon called LASSO (Low Altitude Stalking and Strike Ordnance), which is a kamikaze drone specially designed as a tank destroyer.

To be precise, LASSO is a type of portable weapon for infantry whose basic idea is reflected in the case that occurred in the Russian-Ukrainian war.

As with the Switchblade drone, the LASSO system can be carried by a single soldier. LASSO components consist of launcher tubes, drones with lethal payloads, fire control stations, including electrical optical/infrared sensors, precision flight control that supports the ability to fly, track and engage non-line-of-sight targets with high-precision lethal attacks. .

The plan is for LASSO to equip weapons in the Infantry Brigade Combat Teams (IBCT). So far there is no information about the capabilities of this LASSO kamikaze drone, of course the question is how far this drone can reach, its speed, propulsion, weight and warhead. (Glang Prime)

Tuesday, November 1, 2022

EXTRAORDINARY!! Age Finds Ukrainian Drone in Crimean Attack with 'Canadi...

Age Finds Ukrainian Drone in Crimean Attack with 'Canadian-Made Navigation Module'.
Tuesday, 1-11-2022.




IslamTimes - Russia's Defense Ministry said it had found and analyzed fragments of a drone used by the Ukrainian military to carry out a "terrorist attack" against Russia's Black Sea Fleet in the Crimean Peninsula, coming to the conclusion that the drone was equipped with a "Canada-made navigation module." carried out near the Crimean port of Sevastopol with 16 drones on Saturday morning, with the Russian military saying it had managed to repel it.
“Specialists of the Russian Ministry of Defense together with representatives of other state agencies examined the navigation module of a Canadian-made marine drone. Based on the results of the data retrieved from the navigation receiver's memory, it was determined that the marine drone had been launched from the coast near Odessa," the ministry said in a statement on Sunday (30/10).
According to the statement, the drones had moved along the "grain corridor" security zone before changing course towards the Russian naval base in Sevastopol, the largest city on the Crimean Peninsula. "This may indicate the initial launch of this device from one of the civilian vessels chartered by Kiev or its Western customers for the export of agricultural products from Ukrainian ports."
Russia's Defense Ministry said shortly after Saturday's drone strike that Moscow was suspending its participation in a UN-brokered deal that allows grain exports from Ukraine amid a worsening global food crisis.
The ministry also accused Kiev of planning the Sevastopol drone strike with the help of British military specialists; a claim London denies.
Earlier this week, Sevastopol Governor Mikhail Razvozhayev said a drone had struck a thermal power plant near the Crimean port city.
The Russian fleet stationed at the port was also attacked by drones in July.
Crimea joined the Russian Federation in a referendum in 2014.
Russia launched a "special military operation" in Ukraine in late February, following Kiev's failure to implement the terms of the 2014 Minsk agreement and Moscow's recognition of the breakaway Donetsk and Luhansk regions.

source : www.islamtimes.org

Sunday, October 30, 2022

Tested on the Battlefield, Several countries claim to want to buy Irania...

Several countries claim to want to buy Iranian-made drones
Wednesday, 26-10-2022.





Some 22 countries are claimed to have made formal requests to buy Iranian drones after Ukraine accused Russia of using Tehran's drones to attack the country.
The former commander of Iran's Revolutionary Guard Corps as well as the main military aide to Iran's Supreme Leader, Major General Yahia Rahim Safavi, said some of the countries that were buying were splintered from the former Soviet Union.
"Today we have found that 22 countries in the world are interested in buying unmanned weapons from Iran," Safavi told Tasnim News quoted by Al Araby.
"Current candidate countries to buy Iranian drones include Armenia, Tajikistan, Serbia, Algeria, Venezuela and other countries," Safavi said, as quoted by Middle East Monitor.
Furthermore, Safavi explained that before the Islamic Revolution, Iran had imported 80 percent of its military needs from abroad. However, the Middle Eastern country is now producing its own military equipment.




So far there are no further details which other countries are buying Iranian drones. They also did not reveal what kind of drone the dozens of countries were asking for.
Iran is known to have many drones. Some of them are Shahed-136, Fotros, Saeqeh-2, and Mohajer-6.
The Shahed-136 drone, also known as the Kamikaze, was in the spotlight after Russia was said to have used the weapon to attack Ukraine.
However, Iran has denied sending the drone to Russia. The Shahed 136 drone carries a small warhead that explodes on impact

Post by facebook admin military strategy technology

Monday, October 24, 2022

Rusia Kirim Gelombang Serangan Drone Kamikaze Shahed-136 Buatan Iran, Be...

Rusia Kirim Gelombang Serangan Drone Shahed-136 Kamikaze Buatan Iran, Berikut Ini Spesifikasinya.
Rabu, 19-10-2022.




Gelombang baru serangan udara mematikan Rusia di Ukraina telah menewaskan lebih dari 25 orang dan melukai lebih dari 100, menurut pihak berwenang di Kyiv, sebagaimana dikutip Al Jazeera, 17 Oktober 2022.
Serangan dimulai pada 10 Oktober lalu menggunakan rudal Rusia serta drone buatan Iran, yang telah menargetkan setidaknya 10 wilayah di seluruh negeri, menurut pihak berwenang Ukraina.
Kawanan pesawat tak berawak yang sarat bahan peledak itu, disebut drone “kamikaze”, menargetkan Kyiv, menewaskan sedikitnya empat orang dan menargetkan fasilitas energi. Angkatan Udara Ukraina mengaku telah menghancurkan setidaknya 37 drone pada hari Senin.
Mengapa disebut drone kamikaze?
Tidak seperti drone yang kembali ke pangkalan setelah rudal diluncurkan, drone kamikaze atau bunuh diri dihancurkan dalam serangan. Kamikaze sendiri merupakan istilah yang digunakan pilot Jepang dalam Perang Dunia II untuk serangan bunun diri dengan menabrak target musuh.
Ukraina mengatakan Rusia mengimpor drone dari Iran, di mana mereka dikenal sebagai Shahed-136, yang dapat diterjemahkan sebagai “yang rela berkorban saat perang”.
Shahed-136 pertama kali muncul dalam perang pada bulan September. Meskipun digambarkan sebagai drone kamikaze, drone itu lebih baik dianggap sebagai rudal jelajah kecil dengan kapasitas destruktif yang relatif terbatas. Meskipun begitu, drone Shahed-136 mampu membawa rudal dan memiliki muatan sekitar 50 kilogram (110 pon). Itu berarti mereka dapat menimbulkan kerusakan yang signifikan.
Selain memiliki panjang 3,5 meter, Shahed-136 memiliki lebar sayap 2.5 meter, dengan berat 200 kg dan dapat menempuh kecepatan hingga 115 mph. Jarak yang dapat ditempuh hingga 1.550 mil dan menggunakan mesin push-propeller.
Bentuk sayap triangular milik drone tersebut membuat Shahed-136 terlihat seperti setrika. Yang mengejutkan, drone ini tak memiliki kamera dan hanya dipandu dengan menggunakan navigasi satelit. Hal tersebut mengakibatkan Shahed-136 hanya dapat menyerang target jarak dekat yang telah dipantau sebelumnya.




Selain itu, komponen elektronik dan mesinnya berasal dari AliExpress yang masuk ke dalam golongan kelas sipil. Karena hal itu, drone jadi sangat sensitif terhadap sistem perang elektronik. 
Analis pertahanan Al Jazeera Alex Gatopoulos mengatakan amunisi drone tersebut dapat melayang di atas suatu area untuk mengidentifikasi target, sebelum menyelam dan menghancurkannya.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, mengatakan Rusia telah membeli 2.400 drone  jumlah yang terdengar besar, tetapi habis dengan cepat.
Gatopoulos mengatakan drone kamikaze atau Shahed-136 tidak mungkin buatan Rusia karena Moskow telah tertinggal dalam mengembangkan drone taktis kelas bawah, terutama yang bersenjata.
Samir Puri, seorang analis di King's College London, dikutip Al Jazeera, mengatakan bahwa beberapa bentuk perjanjian penjualan kemungkinan telah terjadi antara Moskow dan Teheran.
"Drone ini dibeli dari rak Iran, dipindahkan ke zona perang dan digunakan, saya pikir, sangat banyak sebagai senjata yang akan terus membingungkan pertahanan udara Ukraina dengan menambahkan sesuatu yang lain," kata Puri.
Drone kamikaze harganya jauh lebih murah daripada rudal jelajah, namun biayanya sekitar US$ 20.000 juga tidak bisa disebut murah. “Itu sebenarnya cukup mahal, ketika Anda memikirkan fakta bahwa mereka (Shahed-136) adalah senjata sekali pakai.” ucapnya. 

Posting admin facebook teknologi strategi militer